libforda | TECTONA, Majalah Kehutanan Pertama di Indonesia Berusia 113 Tahun

Detail Berita

TECTONA, Majalah Kehutanan Pertama di Indonesia Berusia 113 Tahun


TECTONA, nama ilmiah dari pohon Jati dipilih oleh VABINOI (Vereniging Ambtenaren bij het Boschwezen in Nederlandsch Oost Indie), sebagai nama majalah kehutanan pertama pada masa kekuasaan Hindia Belanda di Indonesia. VABINOI merupakan perkumpulan pegawai Jawatan Kehutanan Hindia Belanda yang beranggotakan pegawai tinggi dan menengah. Perkumpulan ini  telah menyumbang berbagai gagasan dan pemikiran untuk kemajuan ilmu kehutanan, organisasi dan cara kerja Jawatan Kehutanan. TECTONA terbit sebagai hasil konggres VABINOI pada bulan Maret 1908 di Yogyakarta, 113 tahun silam.

Runtutan peristiwa sejarah kehutanan di Indonesia mengungkapkan bahwa VABINOI  berdiri pada tanggal 29 Desember 1907, kurang lebih sepuluh tahun sejak  keberadaan Djawatan Kehutanan (Het Boswezen van Nederlandsch Oost Indie) pada  Departemen Pertanian, Perindustrian dan Perdagangan (Departement van Landbouw, Nijverheiden Handel ) yang dibentuk pada tanggal 1 Juli 1897. Selain membidani penerbitkan majalah ilmiah kehutanan, VABINOI juga mempelopori  lahirnya stasiun penelitian kehutanan Proefstation Voor Het Boswezen  pada tanggal 16 Mei 1913. Pendirian stasiun penelitian ini merupakan titik awal keberadaan unit kerja di bidang penelitian kehutanan di Indonesia.

Pada awal penerbitan, TECTONA terbit dua bulanan dibawah redaksi K.S. van Braam, kemudian H. teen Oever. Sejak Januari 1911, menjadi majalah dengan frekuensi penerbitan sebulan sekali. Namun ada kalanya diterbitkan edisi khusus atau ekstra diluar waktu penerbitan rutin dengan topik tertentu, misalnya tentang eksploitasi kayu. TECTONA menampung hasil penelitian para anggota VABINOI.

Artikel TECTONA hampir semua dalam Bahasa Belanda, menjadi arsip dan cerminan perkembangan ilmu kehutanan khususnya pada masa Hindia Belanda. Beberapa ilmuwan seperti Hendrik teen Oever, redaksi juga tokoh penting VABINOI, karyanya banyak dikutip terkait kebijakan pengelolaan hutan pada awal abad ke-20. Demikian juga dengan F.J. Appelman seorang rimbawan senior tulisannya tentang konservasi alam di Indonesia menjadi rujukan dalam pengelolaan konservasi alam di Indonesia. TECTONA juga memuat banyak informasi tentang aktivitas pengelolaan dan eksploitasi hutan jati di Jawa dari masa awal hingga berakhirnya masa kolonial. Laporan para pegawai kehutanan dan juga berbagai opini tentang pengelolaan hutan jati, termasuk pembukaan jalur rel kereta api di kawasan hutan jati pada awal abad ke-20. Sebagaimana yang ditulis oleh rimbawan Z. Van Doorn dalam TECTONA edisi XX tahun 1927.  

Menilik sejarah penerbitan majalah ilmiah di Indonesia, Tijdschrift van Bataviaasch Genootschap van unten en Wetenschap, merupakan majalah sains pertama yang terbit   pada tahun 1779. Berturut-turut kemudian terbit majalah pertanian (Proceeding Agricultura Sociaty, 1821), majalah umum (De Kopiist, 1838; Indisch magazijn, 1844); ilmu pengetahuan alam (Naturkundig en Genesskunding Archief, 1844); keagamaan (Tijdschrft ter bevordering van Christelijke zin, 1846); majalah hukum 1849.

Penerbitan majalah kehutanan TECTONA (Bosbouwkundig Tijdschrift “Tectona” Buitenzorg) tak lepas dari perkembangan di bidang pertanian dan tentu saja kepentingan kekuasaan Hindia Belanda. Diawali dengan catatan hasil ekspedisi ke kawasan Sumatera yang dimuat pada Proceedings Agricultura Sociaty, majalah pertanian pertama. Kemudian lahir majalah-majalah pertanian lainnya dengan topik lebih spesifik seperti masalah-masalah pertanian di pulau Jawa, tanaman ekspor, hama penyakit, perkebunan, kehutanan, dan lain-lain.

Hal yang menunjang pertumbuhan majalah pertanian pada masa itu, antara lain adalah kepentingan Belanda yang menjadikan komoditas pertanian (perkebunan dan kehutanan) sebagai sumber devisa utama. Pemerintah Belanda menaruh perhatian yang besar pada para ilmuwan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang cukup dan rasa ingin tahu yang mendalam. Status sosial penulis artikel diasosiakan dengan perkebunan itu sendiri sehingga merangsang "indisch" untuk menulis karya ilmiah.

Dinamika pertumbuhan dan perkembangan majalah ilmiah pada awal kemunculan hingga tahun 1942 mengalami pasang surut. Ada yang terus eksis, namun ada yang tidak terbit kembali. Hingga tahun 1941 terdapat 31 majalah ilmiah berbagai bidang yang dianggap penting di masa kekuasan Hindia Belanda di Indonesia. Majalah pertanian menduduki posisi empat utama dibandingkan dengan majalah bidang lain. Untuk majalah pertanian hanya ada 13 yang masih terbit dari puluhan majalah pertanian yang pernah ada. Tectona menjadi salah satu dari 13 majalah yang tetap eksis dan dianggap penting. TECTONA terakhir terbit pada tahun 1958.

Mengingat TECTONA merupakan khasanah ilmu pengetahuan sekaligus mengandung historis   warisan ilmuwan terdahulu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan dan dikembangkan, Direktorat Jenderal Kehutanan RI bekerjasama dengan Perum Perhutani, Jawatan Kehutanan Negeri Belanda dan De Dorchkamp Research Institute for Forestry and Landscape Planning telah mengalih bahasa ringkasan artikel pada Majalah TECTONA dalam bahasa Inggris, yang terhimpun dalam Indonesian Forestry Abstracts.  Indonesia Forestry Abstracts merupakan kompilasi abstrak literatur tentang Kehutanan Indonesia yang ditulis dalam bahasa Belanda. Terdapat 6000 abstrak artikel yang dihimpun dari 93 majalah, laporan penelitian maupun survey yang diterbitkan baik di Belanda maupun di Indonesia sampai dengan tahun 1960.

Majalah ilmiah kehutanan TECTONA terdokumentasi di Perpustakaan R.I Ardi Koesoema Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sampai saat ini, TECTONA masih menjadi rujukan bagi para akademisi maupun pemerhati kehutanan.

 

Sumber bacaan:

 

Badan Litbang Kehutanan. 2013. Satu Abad Penelitian Kehutanan Indonesia

Departemen Kehutanan R.I. 1986. Sejarah Kehutanan Indonesia I Periode Pra Sejarah – Tahun 1942. Departemen Kehutanan R.I.

https://news.trubus.id/baca/19033/sejarah-dan-fakta-menarik-kawasan-konservasi-di-indonesia

 

https://sulistyobasuki.wordpress.com/2014/02/11/pertumbuhan-dan-perkembangan-majalah-pertanian-di-indonesia-antara-tahun-1820-9142/

https://www.kompasiana.com/sukatan_malaka/5500d348a33311c56f512555/bundel-majalah-ini-seratus-tahun-lebih-umurnya

https://edepot.wur.nl/269446 In momarium Dr. Hendrik teen Oever

Warto. 2017. Hutan Jati Berkalung Besi: Pengangkutan Kayu Jati di Jawa pada Akhir Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20. SASDAYA, Gadjah Mada Journal of Humanit ies , Vol. 1, No. 2.