libforda | Terbit atau Binasa: Ke mana Tujuan Peneliti?

Detail Berita

Terbit atau Binasa: Ke mana Tujuan Peneliti?

[BLI]_Frasa ‘terbit atau binasa’ atau lebih dikenal dengan ‘publish or perish’, merupakan adagium terkenal di kalangan intelektual seperti akademisi dan peneliti. Frasa ini bermakna bahwa kaum intelektual tersebut dituntut produktif menulis dan memublikasikan gagasan-gagasan atau hasil risetnya, agar kemanfaatannya menyebar luas dan berkontribusi pada kesinambungan ilmu pengetahuan.

“To be published or perished? To be published and cherished!” ujar Dr. Hesti Lestari Tata, reviewer pada Indonesian Journal of Forestry Research (IJFR), mengawali paparannya tentang ‘Konsep Penulisan Ilmiah’, Rabu (3/6).

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” lanjut Hesti mengutip kata-kata sastrawan terkenal Pramoedya Ananta Toer.

Bertindak sebagai fasiliator pada FORDA Talks Special Seri II Pendampingan Penulisan Naskah Jurnal Internasional (FTS-2) yang digelar secara virtual, peneliti pada Puslitbang Hutan tersebut menyampaikan bahwa membuat publikasi dalam peer-reviewed journals sangat penting bagi penelitian ilmiah. Bagaimana pun spektakulernya hasil penelitian, mengutip dari Day dan Gastel (2006), Hesti menjelaskan bahwa hal itu tidak akan sempurna apabila hasilnya tidak dipublikasikan.

Seri II Pendampingan Penulisan Naskah Jurnal Internasional (FTS-2) ini dihadiri 170 peserta baik dari lingkup Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), perguruan tinggi maupun lembaga litbang lainnya. Dipandu oleh Dr. Yayuk Siswiyanti, Kepala Bagian Evaluasi, Diseminasi dan Perpustakaan BLI, kegiatan ini menghadirkan dua fasilitator. Selain Hesti dengan materi ‘Konsep Penulisan Ilmiah’, Prof. (Ris). Dr. Sri Suharti, yang juga reviewer IJFR, menyampaikan materi berjudul ‘Bentuk, Format, dan Jenis Tulisan Ilmiah’.

 

“Kegiatan ini merupakan part kedua, yang pertama membahas tentang IJFR sebagai jurnal internasional,” jelas Yayuk. Pada seri pertama, ada hal yang tidak bisa dipelajari dari buku, bagaimana strategi dan lika-liku menulis di jurnal internasional. Oleh karenanya, seri kedua ini membahas tentang bagaimana menulis di jurnal, termasuk jurnal internasional.

 

Baca juga: Desain “New Normal” BLI untuk Meningkatkan Publikasi Ilmiah Bereputasi Global

  

Konsep Penulisan Ilmiah

Dalam membangun konsep penulisan ilmiah, Dr. Hesti Lestari Tata menjelaskan  bahwa harus dimulai dengan sebuah pertanyaan riset, “Apa yang berkaitan dengan interest kita di alam, di lingkungan dan masalah sosial yang menarik yang bisa menjadi pertanyaan riset?”

Unduh: Materi Konsep Penulisan Ilmiah

Langkah selanjutnya adalah memilih dan menggunakan referensi yang sesuai dan up-to-date. Kegiatan desktop-study dilakukan dengan membandingkan penelitian terkini dengan penelitian sebelumnya, apa yang sudah dilakukan orang dan yang belum dilakukan. Selanjutnya dilakukan analisis dan interpretasi apakah hasil penelitian tersebut sudah menjawab pertanyaan riset. Data yang realibel dan valid akan sangat mendukung hasil penelitian.

Berikutnya adalah langkah untuk menentukan target jurnal dan membaca guidelines for authors.  Hal ini sangat penting mengingat karena setiap jurnal memiliki persyaratan yang berbeda yang mewajibkan penulis memenuhinya. Tahap selanjutnya yaitu menyusun tulisan dengan struktur IMRAD (Introduction, Methods, Result and Discussion).

Untuk keperluan jurnal internasional, Hesti menekannya perlunya English editing. “Karena kita bukan native speaker, sehingga perlu English editor,” terangnya. Untuk keperluan ini, terkadang penulis harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membayar jasa penyunting bahasa Inggris professional. Namun hal ini tetap harus dilakukan daripada naskah ditolak hanya karena faktor bahasa. Hal penting lain yang jangan dilewatkan adalah meminta review dari kolega terkait atas naskah tersebut sebelum dikirimkan.

“Jangan buru-buru submit,” pesan Hesti. Review dari kolega memungkinkan naskah mendapat masukan dari sesama expert dibidang yang sama sehingga bisa memperkaya naskah.

 

 Bentuk, Format dan Jenis Tulisan Ilmiah

Artikel jurnal merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah (KTI) non buku, selain KTI buku. Prof. (Ris.) Sri Suharti, fasilitator kedua menjelaskan bahwa KTI buku dapat berupa monografi, buku teks, buku panduan dan jenis kompilasi berupa bunga rampai dan prosiding. Sedangkan KTI non buku terbagi dalam empat kategori yaitu 1) Kesarjanaan (skripsi, tesis, disertasi), 2) Hasil Penelitian (artikel, makalah, komunikasi pendek, laporan); 3) Review/ Ulasan/ Resensi;  4) Didaktik  atau bahan ajar untuk diklat, modul, buku ajar dan buku referensi.

“Masih ada dikotomi karya tulis ilmiah murni dan ilmiah populer,” ujar profesor riset BLI yang dikukuhkan pada 2019 lalu. Menurutnya, dikotomi tersebut dapat dibedakan dengan melihat sasaran pembaca, bahasa dan penyajian.

 Unduh: Materi Bentuk, Format, dan Jenis Tulisan Ilmiah

 

Karya tulis ilmiah murni menyasar pembaca terbatas pada lingkungan ilmiah. Bahasa yang digunakan menggunakan gaya selingkung dengan tiga komponen utama berupa format, pola penulisan serta kedalaman dan kerincian penyajian. Penyajian lebih sistematis sesuai dengan ketentuan publikasi yang ditentukan, dan tentunya minim subjektivitas.

 

Format KTI terutama untuk jurnal imiah menggunakan struktur IMRAD terdiri dari Introduction, Method (experiment, theory, design, model), Results and Discussion Conclusions. Sedangkan jenis karya ilmiah terdiri dari original research, review artikel, short communication, current opinion, special issues dan book review.

 

Jenis karya tulis ilmiah tidak hanya berupa original research yang berupa hasil penelitian yang sebelumnya belum pernah dipublikasikan. Namun ada jenis-jenis publikasi lain yang dapat disusun tanpa melalukan penelitian antara lain berupa article review, current opinion dan book review. Ada juga jenis short communication yaitu informasi singkat terkait temuan awal yang ingin segera dipublikasikan. Beberapa jurnal juga menerbitkan jenis special issues yang mengangkat tema topik tertentu dalam edisisi khusus, prosiding dapat dikategorikan jenis ini.

 

“Jika kita punya kemampuan untuk mensintesa, tidak harus melakukan penelitian bisa menerbitkan artikel ilmiah,” jelas profesor dengan kepakaran Ekonomi Sosial Kehutanan tersebut. Sri lalu mencontohkan suatu artikel yang terbit pada jurnal internasional bereputasi tinggi, yaitu berupa review atas 86 naskah dalam bidang social forestry. Review artikel merupakan evaluasi kritis terhadap data dari topik tertentu atau bidang yang sedang diinvestigasi biasanya terkait masalah kritis yang menjadi perhatian publik.

 

Penyelenggaraan FTS-2 ini ternyata menarik minat lebih banyak peserta. Tidak hanya peneliti pemula, profesor riset pun bahkan turut jadi peserta. Prof (Ris) Dr. Pratiwi salah satunya. Ia sangat mengapresiasi paparan para fasilitator dan mengajukan pertanyaan terkait syarat jumlah minimal artikel yang harus diulas untuk membuat article review. Ketua Majelis Profesor Riset BLI ini juga mengapresiasi penyelenggara, “Thanks, it was very nice meeting,” ujarnya melalui pesan whatsapp ke panitia.

 

FTS selanjutnya akan diselenggarakan pada Kamis, 11 Juni 2020 dengan fasilitator Dr. Maman Turjaman dan Dr. Asep Hidayat.*(TS)


Informasi lebih lanjut:

Sub Bagian Diseminasi, Publikasi dan Perpustakaan

Bagian Evaluasi, Diseminasi dan Perpustakaan, Sekretariat BLI

Narahubung: Tutik Sriyati (WA 0813-1126-5476, email: libforda@yahoo.com)