Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" | BUTUH WAKTU 10 TAHUN UNTUK KEMBALIKAN POPULASI CACING PADA LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA

Detail Berita

BUTUH WAKTU 10 TAHUN UNTUK KEMBALIKAN POPULASI CACING PADA LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA

Cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan dan kualitas tanah karena peran mereka dalam dekomposisi sampah dan penggalian.  Di daerah pasca penambangan, cacing tanah memainkan peran penting dalam meningkatkan dan mengembalikan kualitas tanah  di area rehabilitasi. Sementara itu aktivitas pertambangan batubara di Indonesia telah menyebabkan kerusakan tanah yang parah dan  menurunkan tingkat populasi cacing tanah.   Penelitian yang dilakukan oleh Ardiyanto W. Nugroho, Septina A. Widuri and Tri Sayektiningsih  menemukan fakta bahwa diperlukan waktu lebih dari 10 tahun bagi lahan bekas tambang batubara agar kerapatan cacing tanah kembali seperti semula setelah dilakukan rehabilitasi.

Lebih lanjut dalam artikel yang dipublikasikan pada Indonesian Journal of Forestry Research Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018, dijelaskan bahwa hasil penelitian  menunjukkan bahwa hanya ditemukan 2 jenis cacing tanah dari semua lahan rehabilitasi, dimana jumlah populasi meningkat  pada tiap tingkatan umur tanaman rehabilitasi. Namun demikian, populasi cacing pada lahan rehabilitasi dengan umur  tanaman 10 tahun hampir sama dengan jumlah populasi cacing tanah pada hutan alam. Secara umum, penanaman pohon  yang menghasilkan banyak serasah mampu menstimulasi peningkatan populasi cacing tanah dan menginisiasi suksesi.

Penelitian yang dilakukan pada lahan bekas tambang batubara PT Kideco Jaya Agung, Kalimantan Timur. Perusahaan ini merupakan perusahaan tambang batubara terbesar ketiga di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel tanah pada lahan rehabilitasi  dengan umur tanaman 2, 4, 6, 8, dan 10 tahun, sebanyak 5 sampel setiap tingkatan umur dengan ukuran 30cm x 30cm,  kedalaman 20cm. Jarak antar sampel 20m. Ketebalan serasah juga diukur pada setiap sampel yang diambil. Analisis chi square dilakukan untuk mengetahui tingkat signifikansi kerapatan cacing pada setiap tingkatan umur rehabilitasi,  sedangkan analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan jumlah cacing dengan ketebalan seresah (TS).

 

Artikel lengkap dapat diunduh pada: http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/IJFR/article/view/4549