Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" | FAKTOR PEMANFAATAN DAN LIMBAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM PAPUA BARAT

Detail Berita

FAKTOR PEMANFAATAN DAN LIMBAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM PAPUA BARAT

Pemanenan kayu mempunyai peranan penting dalam menentukan kualitas produksi kayu bulat dan limbah yang dihasilkan. Ada 2 (dua) hal penting dalam proses pemanenan kayu, yaitu faktor pemanfaatan dan limbah yang dihasilkan. Limbah pemanenan kayu dapat disebabkan karena proses penebangan, pembagian batang, kondisi batang pohon yang cacat/pecah maupun akibat pemotongan setelah dilakukan pengujian dan pengukuran  kayu bulat di tempat pengumpulan kayu sementara.

Penelitian yang dilakukan di areal ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam PT. A di Kabupaten Wasior dan PT. B di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Barat ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran, bentuk, dan kondisi limbah pemanenan serta menghitung besarnya faktor pemanfatan kayu dan faktor residu akibat pemanenan kayu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pemanfaatan kayu pada IUPHHK-HA yang menerapkan teknik Reduced Impact Logging (RIL) cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan IUPHHK-HA yang pemanenan kayunya masih dilakukan secara konvensional.

Faktor pemanfaatan kayu berkisar antara 86,2 – 87,8% dengan rata-rata 86,9%, dan faktor residu berkisar 12,3 – 13,8% atau rata-rata 13,1%. Besarnya volume kayu yang dimanfaatkan rata-rata 4,578 m3/pohon dari potensi batang bebas cabang sebesar 5,293 m3/pohon, sedangkan Volume limbah berkisar antara 0,548 – 0,664 m3/pohon atau rata-rata 0,564 m3/pohon.

Besarnya limbah penebangan kondisi cacat (mata buaya, bengkok, growing, busuk hati) rata-rata 65,1%, pecah (23,3%), dan paling rendah adalah limbah yang kondisinya masih baik (11,6%). Limbah kayu pecah selain diakibatkan oleh kondisi topografi yang curam juga diakibatkan kesalahan operator chainsaw dalam membuat takik rebah, takik balas dan arah rebah ke bagian bawah kemiringan lereng.

Guna meningkatkan faktor pemanfaatan dan mengurangi  terjadinya  pecah  kayu  disarankan untuk meningkatkan keterampilan operator gergaji mesin dalam   proses penebangan dan pembagian batang. Selain itu juga untuk meminimalisir terjadinya limbah penebangan,  dan meningkatkan kompetensi penguasaan teknik tebang juga diterapkan metode tree length logging agar  limbah kayu dapat dikurangi menjadi ± 8%.

Peningkatan nilai tambah limbah kayu juga dapat dilakukan dengan membangun industri pengolahan kayu di areal kerja menggunakan mesin pengolahan kayu baik tipe yang tidak bergerak (non-portable) atau yang mudah dipindahkan (portable).


Hasil penelitian selengkapnya dapat diakses di Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 36 No. 2 Tahun 2018 atau diunduh melalui http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPHH/article/view/2849