Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" | SISTEM AGROFORESTRI KOPI DENGAN KAYU BAWANG (Azadirachta excelsa Jack.), UNTUNGKAN PETANI KABUPATEN REJANG LEBONG, PROVINSI BENGKULU

Detail Berita

SISTEM AGROFORESTRI KOPI DENGAN KAYU BAWANG (Azadirachta excelsa Jack.), UNTUNGKAN PETANI KABUPATEN REJANG LEBONG, PROVINSI BENGKULU

Kayu bawang (Azadirachta excelsa Jack.) selain dikenal sebagai pohon penaung tanaman kopi juga dikenal sebagai pohon penghasil kayu yang bernilai, terutama untuk kayu pertukangan dan kayu energi. Namun banyak petani belum tahu kelebihan menggunakan kayu bawang sebagai pohon pelindung untuk kopi perkebunan dalam sistem agroforestry.

Saat ini, permintaan pohon Kayu bawang meningkat, sedangkan ketersediaan pohon kayu ini semakin langka, akibatnya harga pohon kayu bawang menjadi mahal.

Adapun kopi memiliki peran penting di lokal ekonomi daerah ini. Kopi juga merupakan komoditas utama di dataran tinggi Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, terutama di sepanjang pegunungan wilayah Bukit Barisan Selatan.

Menurut BPS Rejang Lebong (2013), perkebunan kopi adalah sumber penghasilan utama untuk 17,402 rumah tangga dan berkontribusi secara substansial terhadap
Produk Domestik Bruto kabupaten.

Untuk mengetahui apakah kayu bawang menguntungkan bila digunakan sebagai naungan pohon kopi inilah maka penelitian dilakukan. Selain itu, penelitian juga bertujuan untuk melakukan analisis finansial sistem agroforestri kayu bawang dan tanaman kopi, termasuk pengelolaan lahan yang diterapkan, mengetahui biaya dan pendapatan, kelayakan finansial  dan melakukan analisis sensitivitas terhadap sistem agroforestri yang diterapkan.

Kabupaten Rejang Lebong sebagai daerah dataran tinggi di Bengkulu, dipilih sebagai tempat dilaksanakannya penelitian, dimana data dikumpulkan melalui observasi di lapangan, survei rumah tangga dan wawancara mendalam dengan beberapa aktor kunci untuk memperdalam informasi dan memverifikasi data yang telah diperoleh.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan agroforestri kopi dengan kayu bawang di Kabupaten Rejang Lebong masih belum intensif, karena petani masih mengelola lahan dengan cara tradisional. Meskipun demikian, sistem agroforestri tanaman kopi dan kayu bawang layak secara finansial pada tingkat faktor diskonto 8 % (NPV = Rp76.250.582; BCR 2,28 dan IRR 22%).

Sistem agroforestri memiliki ketahanan yang baik terhadap perubahan harga kopi, produksi kopi dan harga kayu bawang. Sistem agroforestri masih layak meski produksi kopi menurun 30%, dan produksi kayu turun sebesar 30%.

Perubahan produksi dan harga kopi adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kelayakan agroforestri tanaman kopi dan kayu bawang dan sistem agroforestri ini menguntungkan bagi petani, oleh karena itu pemerintah daerah harus mendorong masyarakat untuk menerapkan system ini.

 

Hasil penelitian selengkapnya dapat diakses di Indonesian Journal of Forestry Research Vol. 5 No. 1 Tahun 2018 atau diunduh melalui http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/IJFR/article/view/2300/4225