Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" | MASOI, HHBK MINYAK ATSIRI ANDALAN TELUK BINTUNI PAPUA PERLU DIKEMBANGKAN DENGAN SOSIALISASI DAN PELATIHAN

Detail Berita

MASOI, HHBK MINYAK ATSIRI ANDALAN TELUK BINTUNI PAPUA PERLU DIKEMBANGKAN DENGAN SOSIALISASI DAN PELATIHAN

BLI (Bogor, 6 Agustus 2018). Hasil hutan bukan kayu merupakan sumber daya hutan yang memiliki keunggulan komparatif dan bersinggungan langsung dengan masyarakat. Masoi (Cryptocarya masoia) adalah salah satu HHBK andalan Papua jenis minyak atsiri yang dihasilkan dari penyulingan kulit kayu ini dimanfaatkan sebagai bahan baku aromatik untuk makanan, obat-obatan, parfum, dan aromaterapi.

Permintaan minyak masoi tergolong tinggi baik untuk pasaran dalam negeri maupun luar negeri. Harga minyak masoi di pasaran dalam negeri bisa mencapai 2.000.000/liter dan di pasaran internasional mencapai $ 250 – 350 /liter tergantung lactone yang dikandungnya (Kuswandi et al., 2015). Masoi tumbuh di dataran rendah Maluku dan Papua pada ketinggian 400 – 1000 m dpl, populasi ini tumbuh menyebar dari Nabire, Kaimana, Fakfak,Merauke, Jayapura, Sarmi, dan Manokwari (Kuswandi et al., 2015). Hal ini mendorong tim peneliti BPPTP DAS Solo dan BP2LHK Manokwari untuk merumuskan strategi  pengembangan HHBK masoi di Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat dengan mengidentifikasi faktor eksternal (peluang, ancaman) dan faktor internal (kekuatan, kelemahan).

Penelitian yang dilakukan oleh Baharinawati W Hastanti, dkk ini menggunakan metode penelitian analisis SWOT dengan mengidentifikasi faktor eksternal (EFAS) dan internal (IFAS) berupa: Kekuatan/Strength, Kelemahan/Weaknesses, Peluang/Oppurtunity, dan Ancaman/Threats untuk menentukan strategi yang tepat dalam pengembangan masoi sebagai andalan setempat.  

Baharinawati dkk berhasil merumuskan bahwa diperlukan sosialisasi dan pelatihan budidaya masoi pada masyarakat adat dalam pengembangan masoi sebagai HHBK andalan. Selain itu tim peneliti juga menyarankan adanya penyuluhan hukum untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat untuk mengatasi sengketa lahan.

Penelitian ini dimuat dalam Jurnal Wasian Volume 5 No 1 Tahun 2018. Ingin tahu lebih lanjut, sila klik tautan berikut http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JWAS/article/view/4202