Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" | DI KALIMANTAN TENGAH, PEMANENAN KAYU AKIBATKAN KERUSAKAN TEGAKAN TINGGAL SEBANYAK 24%

Detail Berita

DI KALIMANTAN TENGAH, PEMANENAN KAYU AKIBATKAN KERUSAKAN TEGAKAN TINGGAL SEBANYAK 24%

Pemanenan kayu pada hutan berbukit di Kalimantan Tengah akibatkan kerusakan tegakan tinggal rata-rata sebanyak 24,37%, berkisar antara 19,37 – 34,9%, terdiri dari kerusakan akibat penebangan (16,27%) dan akibat penyaradan kayu (8,1%), hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti Puslitbang Hasil Hutan. Penelitian yang dilakukan di salah satu IUPHHKHA di Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah pada pada Bulan Agustus - September 2016 itu menunjukkan bervariasinya derajat kerusakan tegakan akibat penebangan disebabkan oleh perbedaan kompetensi operator chainsaw. Tipe kerusakan tegakan akibat penebangan didominasi oleh patah pada batang pohon sedangkan penyaradan umumnya berupa pohon yang roboh/miring karena terdorong oleh traktor sarad.

“Prosedur pelaksanaan penelitian di lapangan dilakukan di tiga petak tebang RKT tahun 2016, yaitu petak tebang L-40, M-41, dan N-42 dengan operator chainsaw yang berbeda tingkat kemahirannya. Pada setiap petak tebang terpilih dibuat tiga plot contoh pengukuran/PCP (Plot sample observation/PSO) dengan ukuran masing-masing 200 m × 100 m (2 ha)” demikian dikutip dalam riset yang diterbitkan pada Jurnal Penelitian Hasil Hutan Volume 35 No 4 yang dirilis bulan Desember 2017.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Tim Peneliti yang terdiri dari Soenarno , Wesman Endom & Sofwan Bustomi penelitian dilakukan bertujuan untuk mengetahui dampak kerusakan tegakan tinggal yang diakibatkan oleh kegiatan penebangan dan penyaradan kayu, khususnya pada hutan alam tropis berbukit di Kalimantan Tengah. Hal tersebut dilatarbelakangi dari penelitiaan sebelumnya bahwa kerusakan tegakan tinggal tidak hanya disebabkan oleh pembuatan jalan angkutan tetapi juga kegiatan penebangan dan penyaradan kayu. Bahkan menurut Hawthorne, Marshall, Juam, & Agyeman (2011) penebangan berdampak melukai tegakan di sekitar pohon yang ditebang terutama bagian tajuk, sedangkan penyaradan cenderung meningkatkan risiko kematian pohon dalam tegakan terutama pada areal di sekitar jalan sarad. Sedangkan Sist, Fimbel,Sheil, Nasi, dan Chevallier (2003) menyatakan, bahwa intensitas pemanenan kayu yang dilakukan di Kalimantan Timur berkisar antara 1 – 17 pohon, sedangkan Elias (2002) melaporkan bahwa intensitas rata-rata pemanenan kayu yang boleh ditebang minimal 6 pohon/ha. Fakta di lapangan diduga selain faktor intensitas pemanenan kayu dan kondisi topografi juga keterampilan operator chainsaw berpengaruh pada kerusakan tegakan tinggal.

Soenarno, dkk menyarankan untuk meminimalisir kerusakan tegakan akibat pemanenan kayu pihak perusahaan perlu (a) memberikan pelatihan dan/atau penyegaran teknik penebangan dan penyaradan ramah lingkungan kepada operator chainsaw dan traktor sarad, dan (b) melaksanakan pemanenan kayu dengan teknik RIL secara baik dan benar.

Read more on: http://ejournal.forda-mof.org/…/inde…/JPHH/article/view/2971