Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" Badan Litbang dan Inovasi Kehutanan | CURAH HUJAN DAN PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN AKIBATKAN BANJIR DI GARUT, PENELITI USULKAN REBOISASI DA

Detail Berita

CURAH HUJAN DAN PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN AKIBATKAN BANJIR DI GARUT, PENELITI USULKAN REBOISASI DA

Banjir yang terjadi di Garut tanggal 20 September 2016 lalu disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama yaitu tingginya curah hujan pada saat itu dan beberapa hari sebelumnya, serta adalah faktor kedua perubahan penutupan lahan di kawasan hulu Sub DAS Cimanuk Hulu. Hal tersebut merupakan hasil  riset dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTKP DAS), Surakarta, Jawa Tengah.

Lebih lanjut dijelaskan  dalam riset yang dipublikasikan pada Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Volume 1 No 2 Desember 2017    faktor penyebab banjir yang diamati yaitu 1) Curah hujan harian maksimum yang tinggi,  2) Kelembaban tanah sebelum terjadinyabanjir yang tinggi,  3)Persentase luas penutupan lahan hutan dan vegetasi permanen yang kecil; dan 4)Sistem pertanian lahan kering tanpa  konservasi tanah dan air yang memadai.

 

Analisis banjir pada penelitian ini  menggunakan metode yang sedang dikembangkan oleh BPPTPDAS, meliputi identifikasi penyebab banjir melalui analisis pasokan air banjir dan daerah rawan kebanjiran kemudian diusulkan rencana perbaikan baik di daerah pasokan air banjir maupun daerah rawan kebanjiran. Sumber pasokan banjir dapat diketahui dari tingkat kerentanan lahan yang dihubungkan dengan hujan. Tingkat kerentanan lahan di Sub sub DAS Cimanuk Hulu didominasi dengan lahan yang sangat rentan (52,15%), daerah pegunungan/perbukitan digunakan untuk tegalan, pertanian lahan kering dan permukiman. Intensitas hujan yang tinggi akan meningkatkan kejadian erosi pada wilayah yang rentan terhadap erosi.

Kecamatan yang paling rentan sebagai pemasok banjir adalah kecamatan Pasirwangi, Cisurupan dan Cigedug dimana  lebih dari 50% luas lahannya sangat rentan (warna merah pada peta). Kecamatan Cigedug dan Cisurupan juga merupakan kecamatan yang lahan hutannya banyak berubah menjadi pertanian lahan kering dan permukiman (Gambar 4) dan luas pertanian lahan kering serta permukimannya lebih dari 60%, bahkan kecamatan Cigedug hanya mempunyai hutan seluas 317 ha (9,6%).  Keadaan ini dapat memperkuat dugaan bahwa perubahan penutupan lahan merupakan penyebab terjadinya banjir besar di Kabupaten Garut. Dengan kondisi Sub sub DAS Cimanuk  Hulu  yang   dikelilingi   oleh   pegunungan/ perbukitan, maka secara umum semua daerah yang datar akan menjadi daerah kebanjiran.

 

Perbaikan yang disarankan oleh tim peneliti yang terdiri dari  Endang Savitri dan Irfan B. Pramono yaitu merubah daerah pertanian lahan kering yang berupa sayuran berangsur-angsur menjadi agroforestri serta melakukan reboisasi pada lahan dengan solum tanah yang dangkal.  Penutupan lahan pada ketiga kecamatan di Garut didominasi oleh pertanian lahan kering (67% di Kecamatan Pasirwangi dan 52% di Kecamatan Cisurupan), dengan sistem agroforestry dan menambah tanaman keras diharapkan aliran permukaan dapat dikurangi. Lokasi reboisasi diarahkan pada lahan-lahan dengan KPL VIIs (solum tanah yang dangkal).

Tim peneliti juga menyarankan Pengurangan volume limpasan di kawasan permukiman dapat dilakukan dengan pembuatan sumur resapan. Khusus untuk wilayah perkotaan, juga disarankan untuk membuat tanggul di tepi sungai. Penelitian monev kinerja DAS masih perlu dilanjutkan, karena hasil monev tersebut dapat digunakan untuk mitigasi banjir.