DI GROBOGAN, MASYARAKAT HARUS MENCARI AIR SEJAUH 1-3 KM, KETIKA MUSIM KEMARAU

Bogor (28/12/2017). Masyarakat di daerah kekeringan di Kabupaten Grobogan harus mencari sumber air sejauh 1-3 km ketika musim kemarau tiba. Apabila sumur keluarga sudah tidak menghasilkan air di musim kemarau maka kepala keluarga cepat mengambil keputusan  apakah mencari air dari sumber yang paling dekat atau membeli air dari pedagang yang menjual air dengan tanki, menurut hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Surakarta.

 

“Kekeringan terjadi  di Dusun Pamor Kabupaten Grobogan karena adanya defisit air pada Mei-Oktober  walaupun neraca air  tahunan surplus” ungkap Purwanto,  penulis makalah  Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi yang dirilis Desember 2017. Kekeringan di Dusun Pamor sudah berlangsung lama dan masyarakat beranggapan  usaha mencari air dari sungai atau tempat lain merupakan kewajiban terhadap keluarga yang harus dihadapi.

Purwanto juga mengungkapkan bahwa usaha mencari air menggunakan jerigen yang berkapasitas 20-25 liter dan kerombong yang diangkut dengan menggunakan sepeda motor. Satu orang dapat mengangkut 2-6 jerige Pencarian air dimulai dari jam 03.00-21.00 WIB tergantung dari panjang antrian di tempat sumber air. Alternatif kedua yakni membeli air dari pedagang yang menjual ke dusun tersebut dengan menggunakan tanki, apabila keluarga memiliki uang untuk biaya tersebut. Pada 2015, satu tanki yang berkapasitas ±5000 liter dapat memasok tiga sumur atau tiga keluarga dengan harga Rp180.000 yang digunakan selama ±1 minggu.

Penelitian yang dilakukan di Dusun Pamor, Desa Banjardowo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah menyajikan informasi persepsi masyarakat, perilaku konsumsi, dan kebutuhan air pada musim kemarau. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan dusun yang mengalami kekeringan setiap tahun sehingga cocok untuk pengamatan perilaku konsumsi air pada waktu musim kemarau.

Kekeringan merupakan salah satu  bentuk bencana hidrometeorologi. Menurut beberapa literatur bencana hidrometeorologi yaitu bencana yang diakibatkan oleh kondisi meteorologi dan kondisi hidrologi seperti angin puting beliung, badai, banjir, kekeringan dan hujan ekstrim, atau hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu yang pendek. Hasil penelitian oleh Septima di tahun 2013, bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah paling tinggi dibanding provinsi lainnya di Indonesia. Sedangkan penelitian Rahmawati di tahun 2016 mengungkapkan salah satu bencana yang terjadi hampir tiap tahun yakni kekeringan di Kabupaten Grobogan.  

Menurut Purwanto, kebutuhan air rumah tangga di musim kemarau yakni untuk satu orang 0,453 m3/hari, satu ekor sapi 0,283 m3/hari dan satu ekor kambing 0,044 m3/hari. Angka tersebut dapat digunakan sebagai dasar perhitungan rancangan pembangunan sarana-prasarana untuk mengatasi kekeringan dan menghitung kebutuhan air di musim kemarau apabila harus dilakukan droping air bersih.

 

Karena curah hujan di Dusun Pamor  cukup tinggi dan bencana kekeringan terjadi umumnya terjadi pada bulan Mei-Oktober, Purwanto menyarankan usaha yang sebaiknya dilakukan yakni pengembangan teknik pemanenan air hujan, seperti: embung; sumur, bak, dan kolam tampung air hujan; serta sumur resapan di sekitar sumur masyarakat yang bagian bawahnya kedap air. “Bangunan tersebut dapat digunakan untuk menyimpan air di musim penghujan dan dimanfaatkan di musim kemarau” jelas Purwanto. (TS)

 

Baca selengkapnya: Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 13 No 3 2017

Posted By Tutik Sriyati Kamis,28 Desember 2017 - 13:21:44 WIB Dibaca 2 Kali

GALERI FOTO

BERITA TERKINI