DAERAH BAHAYA BANJIR DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI SEPAUK DAN TEMPUNAK, KABUPATEN SINTANG, PROVINSI KA

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) hendaknya dilakukan secara rasional dan  menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir sehingga risiko kerusakan lingkungan dapat diminimalkan dan kelestarian tata airnya dapat terjaga (Budiyanto, Tarigan,b Sinukaban, & Murtilaksono, 2015). Faktor lain yang dapat mempengaruhi kelestarian DAS adalah penggunaan lahan, oleh sebab itu, seringkali ditemukan tindakan-tindakan pengelolaan yang justru mempercepat terjadinya degradasi DAS (Herawati, 2010).

 

Faktor penghubung bagian hulu dan hilir suatu DAS adalah daur hidrologi yang lama siklusnya dipengaruhi oleh karakteristik DAS-nya (Paimin, Sukresno, & Purwanto, 2010). Banjir merupakan bencana hidrologis yang salah satu penyebabnya adalah kegagalan pengelolaan DAS. Banjir juga bisa disebabkan karena curah hujan yang sangat tinggi sehingga hutan tidak dapat berfungsi sebagai pengurang limpasan Metode sidik cepat degradasi sub DAS yang sedang dikembangkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS) Surakarta dapat digunakan untuk mengidentifikasi tingkat degradasi sub DAS termasuk di dalamnya adalah daerah bahaya banjir (Paimin, Sukresno, & Purwanto, 2010). Dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG), metode ini sangat mudah untuk diaplikasikan pada tingkat tapak meskipun menggunakan data minimal.

 

Sub DAS Sepauk dan Tempunak  merupakan bagian dari DAS Kapuas yang secara administratif terletakdi Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Dalam Rencana Strategis DirektoratJenderal Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (PDASHL) tahun 2015-2019, DAS Kapuas termasuk salah satu DAS kritis yang perlu dipulihkan daya dukungnya melalui kegiatan-kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Tim Peneliti dari BPPTDAS Surakarta telah melakukan penelitian yang  bertujuan untuk menganalisis tingkat bahaya banjir di Sub DAS Sepauk dan Tempunak.

 

Penghitungan potensi banjir mengacu  pada sidik cepat degradasi sub DAS. Data yang diperlukan adalah DEM/ SRTM Digital Elevation Model/ Shuttle Radar Topography Mission), curah hujan, dan penutupan lahan. Tingkat bahaya banjir dianalisis menggunakan sidik cepat degradasi sub DAS.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah penelitian merupakan daerah  bahaya banjir dalam kategori tinggi, yaitu 78,3% untuk Sub DAS Sepauk dan 56,0% untuk Sub DAS Tempunak. Penutupan lahan pada daerah tersebut didominasi oleh tipe penutupan lahan pertanian lahan kering campur semak, lahan terbuka, dan pemukiman. Selain itu, tingkat bahaya banjir tinggi di Sub DAS Sepauk juga dipengaruhi oleh adanya area pertambangan dan pertanian lahan kering. Perubahan penutupan lahan merupakan proses yang dinamis sehingga pemetaan bahaya banjir perlu terus menerus diperbaharui untuk meminimalkan risiko dampaknya.

 

Untuk artikel lengkapnya sila kunjungi: Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Volume 1 No 2 Desember 2017 

 

 

 

Posted By Tutik Sriyati Rabu,27 Desember 2017 - 16:17:53 WIB Dibaca 2 Kali

GALERI FOTO

BERITA TERKINI