PENYADAPAN GETAH PINUS CARA BOR DAN STIMULAN H2SO4 MAMPU TINGKATKAN HASIL SADAPAN

Getah pinus merupakan primadona baru hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang bernilai komersial dan potensial untuk dikembangkan.  Getah pinus adalah hasil eksudat dari pohon yang tergolong dalam marga Pinus pada umumnya dan khususnya jenis Pinus merkusii Jungh. & de Vriese.

 

Pada pengolahan getah pinus dengan cara destilasi diperoleh gondorukem sebagai residu dan produk tambahan berupa destilat yang disebut minyak terpentin (Kasmudjo, 2010). Produk gondorukem digunakan pada berbagai bidang industri antara lain kertas, sabun, detergen, kosmetik, cat, vernis, semir, perekat, karet, insektisida  dan desinfektan, sedangkan terpentin, digunakan dalam industri arfum, farmasi, kimia, desinfectant denaturant dan  (Satil et al., 2011); (Sharma & Lecha, 2013). Produk turunan dari getah pinus sebagai salah satu jenis HHBK sudah masuk dalam sistem perdagangan internasional. Perdagangan getah pinus (gondorukem dan terpentin) Indonesia di pasar internasional menempati urutan ketiga setelah China dan Brasil (Bina , 2014 ) .  Sebagai  produsen  derivat  gondorukem dan terpentin urutan ketiga, Indonesia melalui Perum Perhutani mampu menembus 10% total produksi dunia setelah China (70%) dan Brasil (11%). Produksi getah pinus Indonesia berkisar 900.000 ton/tahun dan yang diperdagangkan di pasar getah internasional mencapai 50.000 – 60.000 ton/tahun (Bina, 2012). Negara tujuan ekspor produk getah pinus Indonesia antara lain Eropa, India, Korea Selatan, Jepang  dan Amerika  (Perhutani , 2011). Produksi getah pinus di Indonesia tidak hanya di monopoli  oleh Perum Perhutani  yang mengelola hutan di Pulau Jawa. Perusahaan swasta dan BUMN juga telah melakukan pengelolaan hutan pinus untuk memproduksi getah, misalnya di Sulawesi dengan areal hutan pinus 130.000 ha dan di Sumatera 335.000 ha (Santosa, 2010).

 

Pelaksanaan penyadapan getah pinus secara komersial dilakukan dengan cara melukai kulit batang dan jaringan dibawahnya yang disertai dengan atau tanpa penggunaan stimulan kimia (Rodrigues-Corrêa, Lima, & FettNeto, 2017). Dalam kegiatan pemanenan getah pinus di Indonesia telah dicoba beberapa cara penyadapan, antara lain cara koakan (quarre), cara kopral (riil) dan cara bor dengan menggunakan atau tanpa meng gunakan stimulan (cairan perangsang). 

 

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengalaman kerja di lapangan, teknik penyadapan pinus terus mengalami pembaharuan. Orientasi pembaharuan cara penyadapan bertujuan untuk meningkatkan produksi getah seoptimal mungkin namun tetap memperhatikan kelestarian baik produk getah pinus maupun pohon pinus sebagai penghasilnya (Sukadaryati, 2014).

 

Penyadapan pinus dengan cara bor merupakan sistem penyadapan yang bersifat tertutup dengan luka sadap yang lebih dalam,  sehingga dapat  meningkatkan selain kuantitas juga kualitas hasil getah. Sedangkan penggunaan stimulan cairan asam pada luka sadap akan mengencerkan getah atau memperlancar alirannya dari dalam batangpinus, sehingga kuantitas hasil getah meningkat. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Mody Lempang bahwa  penyadapan getah pinus cara bor dengan menggunakan stimulan H2SO4 mampu meningkatkan getah hasil sadapan.  Peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini melakukan penelitiannya pada tegakan pinus hasil tanaman rebosasi di Kabupaten Tana Toraja  Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian   menunjukkan hasil getah pinus dipengaruhi secara sangat nyata baik oleh kedalaman lubang bor maupun konsentrasi stimulan H2SO4 . Semakin dalam lubang bor semakin banyak hasil getah pinus, demikian juga semakin tinggi konsentrasi stimulan H2SO4 yang digunakan semakin banyak hasil getah pinus. Peningkatan kedalaman lubang bor dari 4 cm menjadi 8 cm meningkatkan hasil getah pinus sebesar 65,96% dan penggunaan stimulan H2SO4 dengan konsentrasi  30% dapat meningkatkan hasil getah pinus sebesar 56,45% dibandingkan dengan tanpa menggunakan stimulan. Hasil getah pinus terbanyak diperoleh dari penyadapan dengan kedalaman lubang bor 8 cm dan penggunaan stimulan H2SO4 dengan konsentrasi 30%, yaitu  rata-rata 90,7 g/pohon/pungut.

 Read more on: http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPHH/article/view/2554

Posted By Tutik Sriyati Kamis,21 Desember 2017 - 15:49:09 WIB Dibaca 2 Kali

GALERI FOTO

BERITA TERKINI