KETAHANAN BAMBU INDONESIA TERHADAP RAYAP KAYU KERING

Bambu mempunyai beberapa keunggulan yaitu mudah ditanam, laju pertumbuhan cepat, tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus, mudah didapat, mudah diolah pada arah sejajar serat, dan mempunyai sifat mekanik yang lebih baik daripada kayu (Nurkertamanda, Andrelina, & Widiani, 2011). Selain keunggulannya tersebut, bambu juga memiliki kelemahan yaitu tingkat keawetan alaminya rendah sehingga mudah diserang organisme perusak seperti kumbang bubuk dan rayap (Alipon, Baunza, & Sapin, 2011; Jit Kour, Satya, Pant, & Naik, 2015; Kurhekar et al., 2015; Nurkertamanda et al., 2011). Hal ini menurunkan kualitas produk bambu yang dihasilkan ter utama jika digunakan sebagai material subsitusi kayu pertukangan.

Keawetan merupakan faktor utama dalam pemanfaatan bambu terutama untuk konstruksi, mebel, dan barang kerajinan. Secara alami, ketahanan setiap jenis bambu berbeda, demikian juga untuk ketahanan terhadap jamur maupun  serangga.  Menyikapi permasalahan tersebut, Tim Peneliti dari Badan Litbang dan Inovasi  yang terdiri dari Jasni, Ratih Damayanti dan  I.M. Sulastiningsih mencoba melakukan pengklasifikasian ketahanan 20 jenis bambu terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light)

Bahan pada penelitian ini menggunakan  20 jenis bambu yang dikumpulkan dari beberapa  lokasi di Indonesia antara lain Kebun Raya Bogor (delapan jenis), Jawa Tengah (lima jenis), Jawa Barat (tiga jenis), Banten (dua jenis) dan Lampung (dua jenis). Setiap jenis bambu berasal dari tegakan dengan kelas umur 3   ̶  4 tahun. Masing-masing jenis bambu dibuat contoh uji dengan ukuran 5 cm x 2,5 cm enganx 1 cm. Pengujian dilakukan selama 12 minggu d  mengacu pada SNI 7207-2014.

Dari 20 jenis bambu yang diuji ketahanannya terhadap rayap kayu kering,berdasarkan penurunan beratnya ada delapan jenis termasuk kelas ketahanan tinggi (kelas I dan II) sedangkan sisanya 12 jenis mempunyai ketahanan rendah (kelas III, IV dan V). Sedangkan berdasarkan derajat serangan  dari 20 jenis bambu yang diuji, dua jenis bambu mengalamikerusakan 38- 40,5% dengan nilai 90 (kerusakan berat),  18 jenis  mengalami kerusakan 18,4  -34,9% dengan nilai 70 (kerusakan sedang).

Dalam penelitian yang dipublikasikan pada Jurnal Penelitian Hasil Hutan Volume 35 No 3 Tahun 2017 , Tim peneliti menyarankan agar bambu yang termasuk dalam kelas ketahanan  III, IV, dan V untuk memperpanjang umur pakai perlu dilakukan proses pengawetan dengan menggunakan bahan pengawet yang ramah lingkungan dan yang telah diizinkan komisi pestisida. (TS)

 

 

 

 

 

Posted By Tutik Sriyati Selasa,19 Desember 2017 - 12:36:19 WIB Dibaca 2 Kali

GALERI FOTO

BERITA TERKINI