SIFAT FISIS DAN PENGERINGAN LIMA JENIS BAMBU

Ketersediaan bahan baku kayu saat ini tidak mampu lagi mengimbangi kebutuhan industri pengolahan kayu dalam negeri yang cenderung meningkat setiap tahun. Industri mebel dan kerajinan membutuhkan kayu sebesar 57,1 juta 3 m /tahun, sementara yang bisa dipasok dari 3 hutan alam dan tanaman hanya sekitar 45,8 juta m. Sehingga untuk mengatasi kekurangan kayu di industri, diperlukan ketersediaan bahan baku alternatif. Salah satu sumber yang bisa mensubstitusi kayu adalah bambu. Keunggulan bambu dibanding kayu, diantaranya tumbuh lebih cepat sehingga bisa dipanen dalam waktu singkat, tahan terhadap kekuatan angin dan seismik yang tinggi, serta mampu mengurangi polusi lingkungan karena menyerap nitrogen dan karbon dioksida (CO ) 2 dalam jumlah yang tinggi.

 

Informasi mengenai sifat fisis bambu penting untuk memahami kestabilan dimensi bambu,sedangkan informasi tentang sifat pengeringan dibutuhkan sebagai dasar untuk menetapkan suhu optimum pengeringannya agar kualitasnya tetap terjaga.Oleh karena itu diadakan sebuah penelitian yang bertujuan  untuk mengetahui pengaruh jenis bambu dan posisi bagian batang terhadap sifat fisis bambu serta sifat pengeringannya. Lima jenis bambu berdiameter besar (umur sekitar 4 tahun) yang diteliti adalah bambu temen (Gigantochloa verticillata Munro) dari Jawa Barat, bambu ori atau bambu duri (Bambusa blumeana Bl. ex Schult.f.) dan bambu ater (Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz ex Munro) dari Jawa Tengah, bambu ampel (Bambusa vulgaris Schrad.) dari Banten, serta bambu peting (Gigantochloa levis (Blanco) Merr.) dari Lampung.

 

Penelitian dilakukan pada bambu bulat dalm kondisi segar. Sifat fisis yang diuji dalam penelitian ini meliputi kadar air, kerapatan, dan penyusutan arah diameter dan tebal batang pada kadar air 10%. Pengujian sifat fisis dilakukan pada arah diameter dan tebal batang bambu. Penetapan suhu pengeringan berdasarkan metode yang diadaptasi dari metode pengeringan kayu, dilanjutkan dengan pengamatan cacat pengeringan seperti deformasi (mencekung & mengeriput) dan pecah ujung/buku.

 

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Efrida Basri & Rohmah Pari ini menunjukkan terdapat hubungan yang erat antara kadar air segar bambu dengan kerapatan dan penyusutan batang bambu. Berdasarkan sifat pengeringannya sifat pengeringan bambu temen (Gigantochloa verticillata) dan bambu ori (Bambusa blumeana) terbaik di antara lima jenis bambu yang diteliti. Kedua bambu tersebut tidak mengalami pecah tapi sedikit mengeriput. Suhu optimum untuk kedua jenis bambu tersebut adalah 45 – 70 C, sedangkan  ampel dan ater 40 – 60 C, dan bambu peting 33 – 50 C.

 

Jika Anda tertarik untuk membacanya lebih lengkap Anda dapat mengakses Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 35 No. 1 2017 sila klik http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPHH/article/view/2516

Posted By Tutik Sriyati Kamis,23 November 2017 - 09:04:59 WIB Dibaca 2 Kali

GALERI FOTO

BERITA TERKINI