Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" | Mempertahankan Akreditasi: Menuju Jurnal Global

Detail Berita

Mempertahankan Akreditasi: Menuju Jurnal Global

FORDA (Cisarua, 22/9/2015) “Seluruh komponen pengelola Jurnal Ilmiah lingkup Badan Litbang dan Inovasi harus dapat memahami peraturan terbaru tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah dan meningkatkan kualitasnya sehingga tidak ada halangan untuk mempertahankan dan mendapatkan kembali akreditasinya,” kata Ir. Tri Joko Mulyono, MM, Sekretaris Badan Litdang dan Inovasi (BLI) saat memberikan arahan pada acara Pembahasan Publikasi Badan Litbang dan Inovasi, KLHK di Hotel Royal Safari Garden, Cisarua (Selasa, 22/9).

 

Tri Joko menjelaskan bahwa BLI mempunyai jurnal ilmiah sebanyak 14 (empat belas) judul, 7 (tujuh) jurnal terakreditasi, dan 7 (tujuh) jurnal tidak terakreditasi. Untuk itu lebih lanjut Tri Joko menjelaskan bahwa diperlukan tips and trik dalam mempertahankan dan mendapatkan akreditasi.

 

 Prof. Dr. Gono Semiadi, salah satu Panitia Penilai Majalah Ilmiah dari Pusbindiklat Peneliti LIPI pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa akreditasi adalah suatu pengakuan/penilaian atas suatu bentuk/kegiatan yang telah memenuhi standar/kriteria yang ditetapkan oleh suatu lembaga yang ditunjuk. Dalam hal akreditasi jurnal ilmiah, lembaga yang berwenang untuk melakukan akreditasi adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI).  Lebih lanjut Prof. Gono menerangkan bahwa mulai 1 April 2016 akan berlaku rujukan yang sama dalam akreditasi yaitu Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Indonesia (Perka LIPI No 3 2014 dan Perdirjen DIKTI No 1 Tahun 2014). 

 

Pada peraturan terbaru ini ada beberapa perbedaan dengan peraturan sebelumnya terutama dalam instrumen penilaian. Sebelumnya format jurnal adalah format cetak dan format online merupakan opsional maka pada peraturan terbaru format online menjadi wajib dan format cetak opsional. Pengelolaan jurnal juga harus  dengan e-publishing system (e-journal). Dengan format baru ini indeksasi dan internasionalisasi jurnal lebih mudah dilaksanakan.

 

Untuk mengantisipasi perubahan format yang disyaratkan, pada awal acara, Tri Joko juga mengatakan bahwa Badan Litbang dan Inovasi telah membangun portal jurnal lingkup Badan Litbang dan Inovasi, yang berisi 14 jurnal lingkup BLI, namun portal tersebut belum efektif dimanfaatkan. Pengelolaan jurnal masih dilakukan dengan cara konvensional dan belum bermigrasi ke elektronik.

 

 Menanggapi hal tersebut Aam Muharam, S.T., MT.,  Deputy Editor  Journal  of Mechatronics, Electrical Power, and Vehicular Technology (MEV), Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik, LIPI sebagai nara sumber berbagi tips dalam bermigrasi dari pengelolaan jurnal cetak ke elektronik. Dewan Redaksi (editor) selain mempunyai pengetahuan dalam penulisan ilmiah dan pengelolaan naskah, juga harus memahami electronic publishing. Jurnal MEV merupakan jurnal yang awalnya dikelola secara manual dan sudah bermigrasi ke elektronik publishing.

 

Electronic publishing menggunakan Open Journal System (OJS) terdiri dari 3 bagian yaitu manajemen situs oleh bagian IT/web admin, manajemen jurnal oleh jurnal manajer dan manajemen penerbitan oleh editor” jelas Aam. Lebih lanjut Aam menjelaskan bahwa fungsi editor terbagi dalam lima peran yaitu editor, editor bagian, reviewer, copy editor, layout editor dan proofreader.  Seluruh proses bisnis penerbitan jurnal dilakukan secara online dan elektronik sejak dari tahapan penerimaan naskah, distribusi penerimaan naskah, penyuntingan naskah dan penerbitan naskah.

 

Selain perbedaan format,  yang harus diperhatikan adalah mekanisme penilaian.  “Mekanisme penilaian ada pada manajemen substasi dan manajemen jurnal” ungkap Prof. Gono.  Manajemen subtansi nilainya 51 dari total nilai 100 dan selebihnya nilai 49 untuk manajemen jurnal. Nilai minimum untuk mendapatkan akreditasi yaitu nilai total 70 dan harus memenuhi nilai unsur substansi minimal 26.

 

Prof Gono juga mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan nilai substansi ada tiga yang berperan penting yaitu peneliti/penulis (35%), mitra bestari (12%) dan dewan redaksi (53%). “Dewan Redaksi juga harus mampu mengarahkan penulis untuk menulis artikel multidiciplinary dan interdiciplinary” tegas Gono. Akreditasi nasional minimal multidisciplinary  dan bila ingin internasional mulai pada penulisan interdiciplinary. Penulisan dilakukan kolaborasi dengan pakar dari berbagai bidang ilmu.

 

Jurnal Global

Writing an international paper shouldn’t be different from writing a national paper it is just  a matter of language” kata Prof Gono.  Sehingga tidak ada dua  mindset dalam penulisan untuk apakah untuk jurnal nasional atau jurnal internasional.  Lebih lanjut Prof Gono menekankan bahwa  penulis harus  memahami benar  akan fungsi sebagai seorang penulis  karya tulis ilmiah (KTI), bertanggungjawab atas kualitas data dan pembahasan, teliti dalam setiap bagian cerita dan mengikuti dengan benar panduan penulisan jurnal. Sedangkan Dewan Redaksi harus bisa membimbing, memeriksa, membahas, menilai  dan menjadi reviewer. Komponen mitra bestari harus bisa mereview  akurasi, relevansi, orisinalitas, kekinian, lingkup kajian, etika dan rekomendasi kelayakan suatu KTI.

Jurnal global yaitu jurnal yang bereputasi internasional, indikatornya jurnal tersebut terindeks pada pengindeks internasional seperti SCOPUS, Thomson Reuters, DOAJ, EBSCO, Google Scholar, Citeulike dan lain-lain. Untuk dapat terindeks, jurnal harus mempunyai website dan dikelola secara elektronik atau electronic publishing.  

Pada akhir acara Ir. Nugroho Sulistyo Priyono, MSc., Kepala Bagian Evaluasi, Diseminasi dan Perpustakaan mengatakan bahwa perubahan mendasar dalam pengelolaan jurnal mau tidak mau suka tidak suka harus terjadi.  “Penulis sudah harus bisa submit secara online dan dewan redaksi mengoreksi  naskah memakai fitur  track changes” harap Nugroho. Pengelolaan jurnal lingkup BLI  harus ditindaklanjuti dengan memperbaiki SK pengelola jurnal sesuai dengan format OJS. Untuk simulasi penilaian akreditasi Nugroho mengharapkan setiap jurnal dapat menggunakan tools self assestment sesuai dengan pedoman akreditasi yang baru (TS).