libforda | Bedah Buku: Restorasi Ekosistem Merapi Pasca Erupsi

Detail Berita

Bedah Buku: Restorasi Ekosistem Merapi Pasca Erupsi

FORDA (Yogyakarta, 19/11/2014). Restorasi Ekosistem Merapi Pasca Erupsi merupakan satu-satunya buku yang dibahas dari 22 judul buku yang diluncurkan dalam rangkaian acara Seminar Nasional Benih Unggul untuk Hutan Tanaman, Restorasi Ekosistem dan Antisipasi Perubahan Iklim pada Rabu (19/11) di Auditorium LPP, Yogyakarta.

 

“Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan selama dua tahun dan kajian referensi yang relevan serta ditelaah oleh ahli ekologi” demikian tertulis dalam kata pengantar buku oleh tim penulis yang terdiri dari Hendra Gunawan, Sugiarti, Marfuah Wardani, M. Hesti Lestari Tata dan Sukaesih Prajadinata.

 

Merapi mempunyai nilai yang penting karena merupakan penyangga kehidupan bagi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Saat ini kawasan Merapi mengalami degradasi yang disebabkan oleh bencana alam dan kegiatan perambahan. Merapi merupakan gunung paling aktif di Indonesia, dengan periodisasi letusan relatif pendek 3-4 tahun yang menyebabkan ekosistem di Merapi. Untuk mengembalikan fungsi Merapi, maka diperlukan adanya restorasi yang sesuai dengan kondisi di kawan Merapi. “Oleh karenanya kami menyambut baik upaya Badan Litbang Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah menerbitkan buku Restorasi Ekosistem Pasca Erupsi” kata Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya pada buku.

 

Penulisan buku ini bertujuan untuk: (1) memberikan pemahaman tentang kondisi ekosistem hutan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), (2) pemahaman tentang dampak erupsi terhadap ekosistem, vegetasi dan satwa di TNGM; (3) memberikan informasi hasil-hasil penelitian dan aplikasinya dalam kegiatan restorasi ekosistem TNGM; (4) menampilkan deskripsi ekologi jenis-jenis pohon asli Gunung Merapi; dan (5) menjadi panduan bagi manajemen dalam pelaksanaan restorasi ekosistem.

 

Buku dibagi dalam tujuh bab, yaitu Pendahuluan, Karakteristik Ekosistem Gunung Merapi, Dampak Erupsi Gunung Merapi, Suksesi Alam dan Ancaman Invasi Spesies Asing, Restorasi Ekosistem, Teknik Koleksi Herbarium dan  Pertelaan Jenis-Jenis Pohon Asli untuk Restorasi Ekosistem Gunung Merapi.

 

Salah satu penyebab degradasi di kawasan Merapi yaitu ancaman invansi spesies asing (alien species) jenis Acacia decurens. “Acacia decurens mungkin primadona untuk tanaman produksi, tapi menjadi haram untuk kawasan konservasi” jelas Hendra Gunawan, salah satu penulis buku.  

 

Acacia decurens mampu tumbuh secara cepat dan invasif di areal rusa akibat erupsi dengan kerapatan mencapai 2.697 individu/Ha. Lebih lanjut Hendra mengatakan bahwa Acacia decurens  menjadi sesuai yang menakutkan bagi konservasi karena  akan merambah kawasan konservasi, namun ternyata Acacia decurens hanya tumbuh pada kawasan yang kosong.

 

Buku juga membagi kawasan pasca erupsi TNGM dalam empat zonasi restorasi yaitu rusak berat, rusak sedang, rusak ringan dan tidak terkena erupsi.

 

Dalam acara bedah buku tersebut hadir Prof. Dr. Djoko Marsono, dari Fakultas Kehutanan UGM sebagai pengulas buku.

 Sebenarnya materi dalam buku ini penting, buku ini 120 halaman, halaman 1-37 mengenai restorasi, halaman 37-38 mengenai pelibatan masyarakat dan sisanya teknik herbarium” ungkap Djoko Marsono dalam ulasannya.

 

Lebih lanjut Djoko mempertanyakan apakah buku ini mengenai restorasi atau herbarium, karena restorasi hanya dibahas dalam buku sebanyak 30% sedang 70% sisanya mengenai teknik herbarium.

 

Dosen Ekologi Hutan tersebut juga mengingatkan bahwa ekosistem merapi tidak semuanya hutan, ada juga yang padang rumput. Dalam deskripsi mengenai flora fauna luasan lengkap, namun deskripsi tentang kawasan yang kena erupsi tidak ada” jelas Djoko.

 

Dalam restorasi Merapi halaman 24, metode masing-masing tidak diikuti. Termasuk pembagian kawasan dalam empat zona, tapi tidak dijelaskan kriterianya apa, dengan alasan bukan bidang atau kepakaran penulis” imbuh Djoko. Lebih lanjut Djoko menjelaskan zonasi  yang ada dalam buku menyulitkan pembaca, karena dalam setiap taman nasional  itu ada jenis zonasi-zonasi lain. Tipe-tipe ekosistem juga ada beberapa, jika hanya beberapa jenis tidak lengkap. Yang dibahas disini hanya dari zona rimba, padahal ada zona rumput dan lain-lain  .

 

Jenis-jenis yang diuraikan untuk restorasi, namun bila dikembalikan ke definisi restorasi maka artinya dikembalikan keadaaan semula, maka tidak akan kembali tapi menuju ke rehabilitasi” jelas Djoko.

 

Dalam akhir ulasannya Djoko Marsono menyarankan perlunya banyak perbaikan karena banyak hal yang masih perlu dipertimbangkan karena belum banyak diulas.

 

Prof. Dr. Naiem, sebagai moderator bedah buku menyimpulkan perlunya menggunakan metode yang lebih detail dan gamblang dalam upaya restorasi. (TS)