Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" | IPTEK Hasil Hutan Bukan Kayu dan Jasa Lingkungan Untuk Mendukung Kesejahteraan

Detail Berita

IPTEK Hasil Hutan Bukan Kayu dan Jasa Lingkungan Untuk Mendukung Kesejahteraan

BPTHHBK Mataram (Mataram, 19/11/2013). Hasil Hutan Buka Kayu  merupakan salah satu sumber daya hutan yang memiliki keunggulan komparatif terhadap pelestarian lingkungan dan memiliki nilai strategis bagi peningkatan kondisi  sosial ekonomi masyarakat khususnya  yang tinggal di sekitar kawasan, serta berpotensi dikembangkan dalam skala industri yang lebih besar  (agroforest based industry). Namun walaupun HHBK memiliki keunggulan  dibandingkan dengan hasil kayu, pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal.

 

 “Selama ini hasil hutan bukan kayu (HHBK)  diperoleh dengan cara memungut, kedepan diharapkan perolehan HHBK dengan cara budidaya untuk menjamin kesinambungan usaha” demikian disampaikan oleh Kepala Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BPTHHBK) Mataram, Ir. Edy Sutrisno, MSc. pada acara Ekspose Hasil Penelitian BPTHHBK Mataram tanggal 19 November 2013 lalu. Lebih lanjut Edy Sutrisno mengatakan bahwa BPTHHBK Mataram menyediakan paket-paket teknologi terutama terkait teknik budidaya HHBK, teknik pengolahan HHBK,  aspek sosial ekonomi kebijakan dan jasa hutan khususnya yang menyangkut karbon terkait dengan REDD.

 

Dalam sambutan selamat datang kepada para peserta ekspose, Kepala Dinas Kehutanan Nusa Tenggara Barat, Dr. Ir. Abdul Hakim MM,  menyambut baik penyelenggaraan ekpose yang bertema “IPTEK Hasil Hutan Bukan Kayu dan Jasa Lingkungan untuk Mendukung Kesejahteraan Rakyat” ini. Abdul Hakim menyatakan bahwa  HHBK sangat menjanjikan untuk merubah struktur ekonomi masyarakat. Abdul hakim juga menyatakan bahwa  NTB sangat membutuhkan uluran ilmu, terutama dari para  peneliti, sehingga sangat diharapkan  paket teknologi yang ditawarkan bisa menjawap permasalaha HHBK di lapangan. Selanjutnya Abdul Hakim berpesan bahwa “Saat ini para petani HHBK sedang berlari, untuk itu peneliti larinya harus dipe rcepat, apabila tidak, maka akan ditinggalkan oleh para petani”.

 

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM. juga mengatakan bahwa “Tantangan potensi HHBK bisa menjadi kegiatan yang prospektif dan ekonomis, masyarakat menunggu paket-paket teknologi”, namun lebih lanjut Tri Joko berpesan bahwa penelitian  tidak hanya  bisa menjawab “Apa?”, namun penelitian  harus menjawab “Bagaimana?”, artinya paket teknologi yang dihasilkan bersifat problem solving dan kebijakan yang dihasilkan didasarkan pada hasil penelitian.

 

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.21/Menhut-II/2009 tentang Kriteria dan Indikator Penetapan Hasil Hutan Bukan Kayu Unggulan,  saat ini telah ditetapkan 6 jenis HHBK Unggulan Nasional yaitu  Rotan, Bambu, Sutera Alam, Nyamplung, Lebah Madu dan Gaharu.  Dari 6 jenis HHBK unggulan tersebut, bambu, madu dan gaharu terdapat di Nusa Tenggara Barat. Sedangkan 4 Jasa lingkungan yang penting  yaitu jasa lingkungan tata air, keanekaragaman hayati, penyerap dan penyimpan karbon dan keindahan lansekap.  Kegiatanan ekspose ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan dan mensosialisasikan hasil-hasil penelitian BPTHHBK kepada berbagai stakeholder terkait. Ekspose menampilkan 9 makalah hasil-hasil penelitian BPTHHBK dan 3 makalah dari lembaga lain. Ekspose terbagi dalam 3 sesi yang menampilkan aspek yang berbeda yaitu aspek budidaya, teknologi pengolahan, dan sosial ekonomi dan kebijakan HHBK. Pada akhir acara dibacakan rumusan hasil ekspose yang merupakan rangkuman substansi seluruh materi dan diskusi serta arahan kebijakan.

 

Ekspose yang diselenggarakan di Hotel Santika Mataram dihadiri oleh sekitar 100 orang yang terdiri dari para peneliti, penyuluh dan praktisi dari berbagai instansi seperti Bakorluh, Dinas Kehutanan, LSM dan akademisi, serta instansi lain yang terkait. Ada yang unik dalam pelaksanaan ekspose ini, yaitu ketika seluruh peserta  diminta untuk secara serentak  meminum madu yang telah disediakan oleh panitia, sebagai tanda dimulainya kegiatan secara resmi.  Madu yang diminum merupakan madu dari lebah jenis Trigona sp. yang banyak dibudidayakan di Lombok. (TS)

 

Rumusan Expose  

Notulen Sesi I

Notulen Sesi II dan III

 

Materi Presentasi

 Sesi I

Karakteristik Pembentukan Gaharu yang Dihasilkan dari Tiga Jenis Teknologi Inokulasi di Propinsi NTB

Analisis Senyawa Kimia Penanda Kualitas Gaharu

Teknik Pengolahan Biokerosin Berbahan Baku Nyamplung dan Kepuh

Karbonisasi Tempurung Kemiri Menggunakan KOH dan Katalis Besi Untuk Mendapatkan Karbon Konduktif

 

Sesi II

Inokulasi Gaharu Menggunakan Isolat Asal Alas dan Lombok Tengah di Lombok Barat

Ujicoba Insektisida Mimba Terhadap Hama Heortia vitessoides Moore pada Tanaman Gyrinops vertstegii Domke dalam Skala Laboratorium

Pembungaan dan Pembuatan Daun Lontar: Studi kasus di Kabupaten Karangasem, Bali

Strategi Budidaya Pengembangan Hutan Rakyat Cendana (Santalum album L.) di Nusa Penida

 

Sesi III

Potensi Nyamplung (Calophyllum inophylum) sebagai bahan baku energi di NTB dan Bali

Kondisi Eksisting HHBK Kemiri (Aleurites moluccana) sebagai alternatif energi terbarukan di Pulau Lombok

Keterlibatan Multi Pihak dalam Kegiatan REDD+ di Pulau Lombok

Pengembangan HHBK: Sebuah alternatif penyelesaian konflik Land Forest Tenure