Diskusi Ilmiah Putaran 1 Tahun 2013

Dalam rangka membina suasana ilmiah dan upaya yang kontinyu untuk peningkatan wawasan IPTEK di kalangan ilmuan telah dilaksanakannya kegiatan Diskusi Ilmiah Putaran 1 Tahun 2013 pada hari Jumat tanggal 22 Februari 2013 di ruang Soediarto kampus Balitbanghut yang mengundang Peneliti, Penyuluh Kehutanan dan Widyaiswara lingkup Kementerian Kehutanan. Pada Diskusi Ilmiah putaran I dihadiri oleh 70 peserta yang terdiri dari Peneliti, Penyuluh Kehutanan dan Widyaiswara lingkup Kementerian Kehutanan.

Tampil sebagai pembicara adalah Ir. Atok Subyakto, M.Sc. dengan materi yang dibawakan berjudul Usaha Kebun Kayu dengan Jenis Pohon Cepat Tumbuh dan Dr. Ir. Murniati yang membawakan materi dengan dengan judul Agroforestry Jabon : Potensi dan Kombinasi Jenis.

 

Dalam paparannya, Ir. Atrok menyampaikan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam usaha kebun kayu dengan pemelihan jenis cepat tumbuh, seperti :

 

  • Lokasi lahan untuk menanam jabon agar tidak menimbulkan masalah. Seperti : ketinggian tidak lebih dari 500 m dpl, curah hujan diatas 2700 mm/thn, bulan kering < 3 bulan, tekstur tanah ringan – sedang (fraksi pasir dominan), lahan terbuka (cahaya penuh), menguntungkan bila ada aliran sungai.
  • Beberapa hama yang menyerang tanaman jabon : ulat pemakan daun, serangga penghisap daun (kepik), stem borer, uret/ku’uk (larva kumbang)
  • Jabon bukanlah satu satunya pohon cepat tumbuh, Eucalipyus, nyawai merupakan salah satu contoh pohon cepat tumbuh, namun beberapa hal ini perlu diperhatikan : rotasi tebang 6-8 th (diameter 30-40 cm), pasar produk kayu terbuka, teknik pembibitan dan penanaman tersedia, benih/bibit tersedia.
  • Jangan memilih pohon yang berjenis invasif terutama dari genus acacia. Apabila lahan kita berdampingan dengan taman nasional atau hutan lindung maka memiliki kecenderungan invasif.
  • Diperlukan uji jenis untuk mempelajari kemampuan adaptasi dan pertumbuhan jenis-jenis yang diuji sebagai dasar penentuan jenis target penanaman di sekitar lokasi pengujian (diperkirakan alokasi waktu kurang lebih 3 bulan)
  • Benih jabon dapat disimpan selama 12 bulan, dan sebaiknya disimpan dalam refrigerator
  • Diperlukan 2 bulan sampai siap sapih, penyapihan dilakukan bila bibit telah memiliki 4 daun atau tingginya minimal 2 cm.
  • Media penyapihan campuran tanah dan kompos (2:1), bibit siap tanam setelah 3 bulan.
  •   Satu bulan setelah penyapihan diberi cahaya penuh.
  • Pada pembangunan hutan tanaman jabon, terdapat aspek penanaman : ketinggian lahan dibawah 400 m dpl, lahan berupa tanah mineral dan gambut, kelembaban tanah tinggi, penanaman tepat pada awal musim hujan, jarak tanam 3 x 3 m (1100 phn/Ha) atau 4 x 2 m (1250 phn/ha), lubang tanam 30 x 30 x 30 cm, pupuk kompos (2-5 lg/lubang) dan NPK (+/-30 gram/lubang), target riap diameter 4 cm/tahun, tanamna campuran : kacang tanah (1 x panen)
  • Pada pertumbuhan jabon, variasi ekstrem pada perbedaan kesesuaian lahan, riap diameter mencapai 6 cm/th pada lahan ideal, hampir tidak ada pertumbuhan pada lahan yang tidak sesuai, rata-rata pertumbuhan diameter pada lahan ideal 4 cm/th.
  • Kendala penanaman jabon : sensitif terhadap kondisi tempat tumbuh (ketinggian dan kelembaban tanah), sensitif terhadap kekeringan, hama ulat dilaporkan menyerang dibeberapa lokasi, belum ada informasi jelas tentang harga kayu, batang kayu jabon mudah patah, sehingga perlu kewaspadaan jika ditanam di perumahan.
  • Jabon telah ditanam di lahan gambut di wilayah kalbar dan riau
  • Untuk lahan gambut, diperlukan kanal untuk mengatur permukaan air, lubang tanam perlu diberi perlakuan dolomit.
  • Pada pertumbuhan tahun pertama menjanjikan, setelah dua tahun diindikasikan pertumbuhan menurun.
  • Pada penanaman jabon di lahan gambut diperlukan penyiapan lahan tebas bersih, bebas dari genangan (perlu kanal)
  • Kiat keberhasilan penanaman : tapak yang sesuai, jenis yang sesuai, waktu yang tepat, bibit yang sehat, pola dan prosedur tanam yang tepat, perhatikan kerapatan, bila perlu dijarangi, dan pengendalian hama secara periodik

 

Sedangkan Dr. Murniati, dalam paparannya menjelaskan bahwa pada prinsipnya agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan berkelanjutan mengkombinasikan pertanian/perkebunan/hewan/hutan dalam struktur berlapis/simultan atau berurutan. Beberapa poin penting dalam pemaparan yang disampaikan adalah :

 

  • 3 kriteria pengembangan agroforestri : produktivitas, berkelanjutan, dan dapat diadopsi oleh petani.
  • Implementasi agroforestri : sistem dan teknik agroforestri diaplikasikan pada berbagai program social forestry, social forestry memayungi pelaksanaan konsep CBFM
  •   Kontribusi agroforestri terhadap produktifitas & kelestarian antara lain : meningkatkan ketersediaan hara, mempertahankan kesuburan tanah, dan sehat secara ekologi & berkelanjutan.
  • Optimalisasi penggunaan lahan untuk peningkatan produktivitas lahan hutan dan pertanian melalui sistem agroforestri dapat meningkatkan ketersediaan pangan.
  • Pengusaha didorong untuk mengembangkan agroforestri melalui diterbitkannya permenhut no. P.19/2012
  • Luas total potensi pengembangan agroforestri di dalam kawasan hutan yaitu 14,1 juta ha
  • Pada kombinasi jenis, prinsipnya distribusi sumberdaya (hara, air, cahaya)diantara pohon dan tanaman bawah : optimal
  • Persaingan antara pohon dan tanaman bawah : diatas tanah : distribusi cahaya dan ruang : karakteristik tajuk pohon. Tajuk tipis dan sempit, tranmisi cahaya optimal pada tanaman bawah.Dibawah tanah : distribusi hara dan air : distribusi perakaran pohon. Dalam & vertikal maka menyerap hara pada lapisan yang lebih dalam dan berfungsi sebagai jaring pengaman.
Aspek yang perlu dipertimbangkan pada pemilihan jenis:
  • Aspek biofisik : iklim, topografi (datar atau miring), ketinggian tempat, lahan (marginal/subur)
  •  Aspek sosial, ekonomi & budaya : staus sosial & luas pemilikan lahan, pemasaran hasil, kebutuhan /kesukaan (preferensi) masyarakat, adat istirahat/kebiasaan masyarakat.

Dalam kontek agroforestri jenis-jenis pohon pionir cepat tumbuh dan tahan terhadap

kekeringan, biasanya mempunyai karakteristik yang berlawanan dalam hal bentuk tajuk

dan distribusi perakaran.

  • Karakteristik jabon dalam kontek agroforestri : cepat tumbuh, perlu cahaya penuh, cabang horizontal, tajuk lebar tetapi jarang, proyeksi permukaan tajuk tidak kesemua arah, pemangkasan alami.
  • Agroforestri bisa dioptimalkan, jika hanya memanfaatkan 1/3 lahan yang sudah dialokasikan saja bisa membuat kita surplus beras.
  • Jenis tanaman bawah dapat dibedakan berdasarkan : kebutuhan cahaya & produk yang dihasilkan., jadi harus selektif memilih paduan tumpang sari.
  • Peluang untuk meningkatkan kontribusi lahan hutan (termasuk hutan milik) dalam penyediaan pangan dan peningkatan pendapatan masyarakat masih sangat tinggi.
  • Diperlukan kebijakan strategis yang lebih mendorong implementasi agroforestri di dalam kawasan hutan
  • Diperlukan kebijakan teknis untuk memperlebar jarak tanam tanaman pokok
  • Perlu mendorong pengusaha untuk melaksanakan skema kemitraan terutama pada hutan rakyat.

 

Posted By Administrator Jumat,22 Februari 2013 - 21:05:40 WIB Dibaca 37864 Kali

GALERI FOTO

BERITA TERKINI