Indeksasi Jurnal: Peluang Diseminasi Hasil Penelitian pada Level Internasional

“Sebuah jurnal ilmiah dalam sepuluh tahun penerbitannya, adakah jurnal lain yang mensitasi jurnal tersebut? Apakah kualitas artikelnya buruk? Apakah Diseminasinya kurang? Diseminasi cetak atau diseminasi online, mana yang lebih penting?” demikian pertanyaan yang dilontarkan oleh Dr. Istadi, narasumber pada Pembahasan Publikasi Badan Litbang Kehutanan di Hotel Permata, Bogor (Kamis, 9/10).

 

Editor in Chief Bulletin of Chemical Reaction Engineering and Catalysis, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang  tersebut menuturkan pentingnya jurnal harus dikelola secara online dan seluruh fulltext harus di-online-kan apabila ingin melakukan indeksasi jurnal pada lembaga pengindeks internasional bereputasi.

 

 “Tujuan utama indeksasi yaitu diseminasi” kata Istadi. Sehingga dapat diketahui siapa saja yang mensitasi jurnal tersebut dan berapa nilai impact factor-nya. Selama ini, dengan pengelolaan jurnal berbasis tercetak, ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab sebagaimana dilontarkan Istadi di awal.

 

”Perlu dilakukan perubahan paradigma dalam hal pengelolaan jurnal dari tercetak ke dalam format online, dimana seluruh proses bisnis dilakukan secara online mulai dari proses penerimaan naskah, review naskah, editing naskah, sampai ke penerbitan naskah final" tegas Istadi.  Hal ini dikarenakan syarat utama dalam indeksasi jurnal ilmiah yaitu format jurnal dalam bentuk online atau electonic journal (e-journal).

 

Staf Ahli Pembantu Rektor IV Universitas Diponegoro tersebut lebih lanjut menyatakan jurnal bereputasi internasional itu relatif. Reputasi jurnal yaitu ketika jurnal mendapatkan sitasi. Di Indonesia, ukuran bereputasi yaitu dengan “akreditasi”, sedangkan secara internasional yaitu jurnal terindeks pada lembaga pengindeks internasional, sehingga terlihat berapa jumlah sitasinya.

 

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Rochadi Abdulhadi, Ketua Tim Akreditasi Majalah Ilmiah LIPI, menyampaikan peraturan terbaru terkait akreditasi jurnal ilmiah yaitu Peraturan Kepala LIPI Nomor 3 Tahun 2014. Salah satu unsur dalam penilaiannya yaitu unsur penyebarluasan, dimana mengandung  beberapa sub unsur yaitu kunjungan unik pelanggan, pencantuman di pengindeks internasional bereputasi  dan alamat/identitas unik artikel atau Digital Object Indentifier (DOI).

 

Menanggapi peraturan tersebut Istadi mengatakan oplah pencetakan jurnal digantikan dengan kunjungan unik pada website jurnal, tidak bisa dimanipulasi. Selain itu juga menghemat anggaran dalam pencetakan jurnal. Sedangkan DOI merupakan alamat unik tiap artikel, salah satu syarat dalam indeksasi. Dengan melakukan indeksasi pada lembaga pengindeks internasional bereputasi juga akan memberikan peluang diseminasi yang lebih luas, tidak hanya dalam negeri namun juga luar negeri.

 

Strategi Indeksasi pada Pengindeks Internasional Bereputasi

 

Menurut data yang dirilis oleh Scimago Journal and Country Rank, jurnal yang dikelola Istadi,  Bulletin of Chemical Reaction Engineering and Catalysis, pada tahun 2013 merupakan jurnal dengan nilai impact factor tertinggi dan sedangkan tahun 2014 menduduki peringkat kedua se-Indonesia. Namun yang memprihatinkan, jurnal ilmiah Indonesia yang mempunyai nilai impact factor masih sangat sedikit, tercatat tahun 2014 hanya 17 jurnal (http://www.scimagojr.com/journalrank.php?area=0&category=0&country=ID&year=2013&order=sjr&min=0&min_type=cd).

 

Sebagai informasi, parameter global untuk  mengukur reputasi jurnal ilmiah yaitu:

a.    Impac Factor (Thomson Reuters)

b.    Scimago Journal Rank (SJR)  dan Source Normalized Impact per Paper (SNIP) (Scimago, SCOPUS)

c.    H-index (SCIMAGO, SCOPUS, Google Scholar)

d.   i10-index (Google Scholar)

e.    Number of published article per x-year

f.     Number of citation per x-year

g.    % rejection rates

h.    Akreditasi Jurnal Ilmiah (A atau B).

 

Sedangkan lembaga pengindeks internasional bereputasi antara lain:

a.    Thomson Reuters /Web of Science

b.    SCOPUS

c.    Cambrige Scientific Abstrac (CSA), Chemical Abstract Services (CAS); CABI

d.   Directory of Open Access Journal (DOAJ)

e.    EBSCO, Gale, Proquest, CABI

f.     Google Scholar

 

Pada kesempatan tersebut Istadi juga memaparkan strategi dan tahapan dalam indeksasi jurnal ilmiah yaitu dimulai dengan yang paling mudah. Langkah awal yaitu dengan membangun portal jurnal online (e-journal). Setelah pengelolaan jurnal sudah dalam format online dan seluruh fulltext artikel baik yang terbaru maupun back issues (artikel lama) diunggah dalam portal jurnal, maka langkah selanjutnya yaitu mendaftarkan jurnal kita pada lembaga pengindeks. Dimulai dengan pengindeks dalam nasional yaitu Portal Garuda, baru ke pengindeks internasional dimulai ke Google Scholar, DOAJ, EBSCO, SCOPUS dan Thomson & Reuters.

 

Sejalan dengan yang disampaikan oleh Istadi terkait dengan strategi indeksasi, pada Soft Launching Portal Publikasi Badan Litbang Kehutanan ( http://www.forda-mof.org/index.php/berita/post/1856),  Retisa Mutiaradevi, S.Kom. MCA, Kepala Sub Bagian Diseminasi, Publikasi dan Perpustakaan mengatakan Indonesia Journal of Forestry Research (IJFR) jurnal berbahasa Inggris yang dikelola oleh Sekretariat Badan Litbang Kehutanan telah membangun portal jurnal online (http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/IJFR).

 

Saat ini IJFR telah terindeks pada Portal Garuda dan Google Scholar. Data dari Google Scholar menunjukkan jumlah sitasi IJFR yaitu 63 dan nilai h-index 5 (http://scholar.google.co.id/citations?user=4h2Jr50AAAAJ&hl=en). Target ke depan IJFR diharapkan dapat terindeks pada pengindeks internasional lainnya. (TS)

Posted By Tutik Sriyati Kamis,16 Oktober 2014 - 16:06:05 WIB Dibaca 48261 Kali

GALERI FOTO

BERITA TERKINI